SUMBER BELAJAR

A. PENGERTIAN MEDIA SEBAGAI SUMBER BELAJAR 1. Pengertian media dan sumber belajar Apakah yang dimaksud dengan media? Secara singkat dapat dikatakan, media adalah sarana fisik yang berisi pesan atau sarana untuk menyampaikan
pesan. Menurut konsep dan kawasan teknologi pendidikan/pembelajaran,
media termasuk sumber belajar. Seperti diketahui, menurut definisi dan
kawasan teknologi pendidikan tahun 1977, sumber belajar meliputi pesan,
orang, bahan, alat, teknik dan lingkungan. Tabel 1 menunjukkan klasifikasi
sumber belajar dilengkapi conto-contohnya. Tabel 1: Klasifikasi Sumber Belajar No. Jenis Sumber
Belajar Contoh 1. Pesan (Message) Kurikulum, matapelajaran,
matakuliah, pokok bahasan, topik,
subtopik. Pengetahuan, sikap, dan
ketrampilan. Fakta konsep, prinsip,
dan prosedur 2. Orang (Men) Dosen, guru, fasilitator, instruktur,
tutor, asisten, penyiar, khotib. 3. Bahan (Software) Kertas tulis, kertas gambar, filem,
CD/VCD Blank, kaset audio, video,
kanvas, gypsum. 4. Alat (Hardware) Pesawat TV, pesawat radio,
komputer, laptop. LCD, OHP,
p[royektor filem, video palyer, DVD
palyer. 6. Teknik (Technique) Strategi, metode, teknik, misalnya
ceramah, diskusi, debat, naratif,
tanyajawab, simulasi, permainan,
dramatisasi. 7. Lingkungan
(Setting) Ruang kelas, ruang lab, perpustakaan,
kebun percobaan, tempat magang,
workshop, ruang studio. Klasifikasi sumber belajar tersebut (untuk memudahkan disingkat POBATEL) disusun dengan menggunakan kerangka pikir: Apa (pesan), oleh
4 siapa (penyampai pesan), menggunakan bahan, alat, teknik, dan lingkungan
seperti apa sumber belajar itu difungsikan untuk membantu proses
pembelajaran peserta didik. Dari klasifikasi sumber belajar tersebut, biasanya
yang termasuk kategori media adalah bahan dan alat. Bahan berisi pesan
misalnya transparansi, sedangkan alat digunakan untuk menyampaikan atau
memproyeksikan pesan (misalnya Overhead Projector). Sumber belajar dapat dibedakan menjadi sumber belajar yang direncanakan (learning resource by design) dan digunakan (learning
resource by utilization). Sumber belajar yang direncanakan adalah segala
sesuatu yang sejak dibuat memang dimaksudkan untuk digunakan sebagai
sumber belajar. Misalnya kaset pelajaran bahasa Inggris, filem pendidikan,
program TV Pendidikan, ruang kelas, perpustakaan sekolah, dsb. Sumber
belajar yang dimantaatkan adalah segala sesuatu yang menjadi sumber belajar
karena dimanfaatkan. Dari awalnya segala sesuatu tersebut tidak
dimaksudkan untuk sumber belajar, tetapi jika kemudian dimanfaatkan untuk
sumber belajar, maka menjadilah sesuatu itu sebagai sumber belajar. Contoh
pengadilan negeri yang dimanfaatkan oleh mahasiswa fakultas hukum untuk
belajar bagaimana cara mengadili perkara pidana atau perkara perdata. Media
yang sengaja dibuat dan dimanfaatkan untuk pembelajaran, disebut media
pembelajaran, dan media pembelajaran tersebut termasuk sumber belajar
yang direncanakan. Ditinjau dari segi bahasa, istilah media (jamak) medium (tunggal) mengandung arti perantara. Dalam kegiatan sehari-hari di sekolah, istilah
media sering diartikan sebagai alat peraga. Dalam hubungannya dengan
komunikasi, media diartikan sebagai alat atau saluran komunikasi. Dalam
hubungannya dengan pembelajaran, media diartikan sebagai “sarana fisik
yang digunakan untuk mengkomunikasikan atau menyampaikan pesan
pembelajaran kepada siswa” (Gagne & Reiser, 1983, p. 5). Media sebagai
alat atau sarana fisik penyampai pesan dibedakan menjadi dua, yaitu
perangkat keras dan perangkat lunak. Perangkat keras lazim disebut sebagai
alat penampil pesan, misalnya pesawat radio, pesawat televisi yang
digunakan sebagai alat untuk menampilkan pesan berupa suara, gambar, dan
kombinasi gambar dan suara. Perangkat lunak adalah sarana untuk
menuangkan atau menyimpan pesan, misalnya kaset untuk untuk menyimpan
suara, filem untuk menyimpan gambar, buku untuk menyimpan tulisan atau
gambar. Secara tradisional sejak zaman pra-sejarah, media dalam bentuknya yang sedarhana sudah lama digunakan sebagai sarana komunikasi dan sarana
mengajarkan keterampilan. Ketika orang-orang masih hidup dalam gua-gua,
pahat, pasir, paku atau pisau dari batu, busur dan anak panah telah digunakan
untuk mengajarkan keterampilan sesuai dengan fungsi atau kegunaan
peralatan tersebut (Gafur, 1984, p. 2). Dewasa ini, media sebagai produk
teknologi komunikasi memegang peranan penting dalam membantu
tercapainya proses belajar mengajar. Dunia sekarang boleh dikatakan adalah
dunia media. Kegiatan belajar mengajar sekarang telah bergerak menuju
dikuranginya sistem penyampaian ceramah, dan berpindah ke arah
5 digunakannya banyak media. Bahkan di negara-negara maju, media ini telah
dikhawatirkan akan menggeser fungsi pendidik. 3. Peran media dalam pembelajaran a. Belajar dan pembelajaran Belajar merupakan perubahan pengetahuan, sikap, dan ketrampilan
yang disebabkan oleh adanya interaksi antara individu peserta
didik dengan informasi atau lingkungan (Molenda, 1996:9).
Terjadi proses belajar jika terjadinya perubahan itu disebabkan
oleh adanya interaksi peserta didik dengan lingkungan belajar,
bukan karena faktor pertumbuhan atau kedewasaan (maturity).
Proses belajar terjadi pada setiap saat. Belajar dapat terjadi pada
saat kita berjalan, menonton TV, mendengarkan radio, bercakap-
cakap dengan orang lain, dsb. Peristiwa belajar secara incidental
tersebut bukan yang menjadi titik perhatian para pendidik. Para
pendidik menekankan proses belajar yang terjadi dalam usaha
kegiatan pembelajaran. Pembelajaran merupakan pengaturan kondisi atau lingkungan yang
memberikan fasiltas atau kemudahan belajar. Lingkungan
dimaksud bukan hanya lingkungan tempat belajar, tetapi meliputi
pula metode, media, dan peralatan yang diperlukan untuk
menyampaikan informasi dan memberi bantuan belajar siswa.
Pengaturan informasi dan lingkungan tersebut biasanya menjadi
tanggungjawab pendidik dan perancang media. Pilihan strategi
pembelajaran menentukan pengaturan lingkungan belajar (metode,
media, dan fasilitas) dan cara bagaimana informasi pembelajaran
disajikan. Jadi proses pembelajaran atau proses belajar mencakup
pemilihan, pengaturan, dan penyampaian informasi dalam
lingkungan yang tepat dan dan cara bagaimana peserta didik
berinteraksi dengan lingkungan pembelajaran. b. Peran media dalam pembelajaran Media mempunyai banyak peran dalam porses belajar mengajar
atau pembelajaran. Bentuk pembelajaran dapat berpusat pada guru
(instructor-directed instruction) atau berpusat pada siswa (student-
centered learning). Dalam bentuk pembelajaran berpusat pada
guru, media digunakan oleh guru sebagai alat bantu ajar (teaching
aid). Dalam pembelajaran yang berpusat pada siswa, media
berperan sebagai media yang dapat mengajar sendiri dengan tanpa
atau sedikit bantuan guru (self instructional media). B. RASIONAL PENGGUNAAN MEDIA 1. Rasional Penggunaan Media menurut Teori Komunikasi
6 Mengapa dalam proses pembelajaran diperlukan media? Proses pembelajaran pada dasarnya mirip dengan proses komunikasi, yaitu proses beralihnya pesan dari suatu sumber, menggunakan saluran,
kepada penerima, dengan tujuan untuk menimbulkan akibat atau hasil
(Gafur, 1986, p.16). Model komunikasi terebut dikenal dengan nama
model: Source – Message – Channel – Reciever – Effect. Dalam proses
pembelajaran, pesan itu berupa materi pelajaran, sumber diperankan oleh
pendidik, saluran berupa media, penerima adalah siswa, sedangkan hasil
berupa bertambahnya pengetahuan, sikap, dan keterampilan. 2. Rasional penggunaan media menurut teori informasi Proses informasi adalah proses menerima, menyimpan dan mengungkap
kembali informasi. Dalam proses pembelajaran, proses menerima
informasi terjadi pada saat siswa menerima pelajaran. Proses menyimpan
informasi terjadi pada saat siswa harus menghafal, memahami, dan
mencerna pelajaran. Sedangkan proses mengungkap kembali informasi
terjadi pada saat siswa menempuh ujian atau pada saat siswa harus
menerapkan pengetahuan yang telah dimilikinya untuk memecahkan
masalah yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu perlu dikemukakan bahwa informasi masuk ke dalam
kesadaran manusia melalui pancaindera, yaitu indera pendengaran,
penglihaan, penciuman, perabaan, dan pengecapan. Informasi masuk ke
kesadaran manusia paling banyak melalui indera pendengaran dan
penglihatan. Berdasarkan alas an tersebut , maka media yang banyak
digunakan adalah media audio, media visual, dan media audiovisual
(gabungan media audio dan visual). Belakangan berkembang konsep
multimedia, yaitu penggunaan secara serentak lebih daripada satu media
dalam proses komunikasi, informasi dan pembelajaran. Konsep
multimedia diasarkan atas pertimbangan bahwa penggunaan lebih dari
pada satu media yang menyentuh banyak indera akan membuat proses
komunikasi termasuk proses pembelajaran lebih efektif. Dalam proses komunikasi atau proses informasi (dan juga proses
pembelajaran) sering dijumpai masalah atau kesulitan. Beberapa masalah
dalam proses komunikasi, misalnya: Ditinjau dari pihak siswa: Kesulitan bahasa, sukar menghafal, terjadi
distorsi atau ketidakjelasan, gangguan pancaindera, sulit mengungkap
kembali, sulit menerima pelajaran, tidak tertarik terhadap materi yang
dipelajari, dsb. Di tinjau dari pendidik, misalnya pendidik tidak mahir
mengemas dan menyajikan materi pelajaran, faktor kelelahan, ketidak
ajegan, dsb. Ditinjau dari pesan atau materi yang disampaiakan,
misalnya: materi berada jauh dari tempat siswa, materi terlau kecil,
abstrak, terlalu besar, berbahaya kalau disentuh, dsb.
7 3. Rasional penggunaan media menurut teori kerucut pengelaman
(cone experience) Idealnya dalam proses pembelajaran, pendidik memberikan pengalaman
nyata dan langsung kepada siswa. Semakin nyata, kongkrit dan
langsung, semakin mudah pula siswa dapat menangkap materi pelajaran.
Namun karena keadaan, tidak selamanya pendidik dapat memberikan
pengalaman secara langsung dan nyata. Karena itu sesuai dengan teori
kerucut pengalaman karya Edgar Dale, dalam mengajar jika pengalaman
langsung tidak mungkin dilaksanakan, maka digunakan tiruan
pengalaman, pengalaman yang didramatisaikan, demonstrasi, karya
wisata, pameran, televisi pendidikan, gambar hidup, gambar mati, radio
dan rekaman, lambang visual, dan lambang verbal (Gafur, 1984, p. 102).
(Lihat Bagan 1) Berdasar alasan bahwa tidak semua penngalaman dapat diberikan secara
langsung, maka diperlukan media. Dengan menggunakan media,
diharapkan masalah-masalah komunikasi dan masalah pembelajaran
dapat diatasi Berhubung dengan itu pula, maka para pengembang sistem pengajaran,
para pendidik maupun dosen, dituntut untuk memiliki pengetahuan dan
keterampilan yang berkenaan dengan media ini. Dalam kurikulum
Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) atau lembaga
penghasil tenaga Pendidik/kependidikan, masalah media ini termasuk
dalam kelompok mata kuliah Proses Belajar Mengajar (PBM) dengan
beberapa sebutan, misalnya matakuliah Teknologi Pengajaran, Media
Pembelajaran, Produksi Media, Teknologi Informasi, dsb. Adapun kompetensi yang diharapkan dimiliki berkenaan dengan soal
media ini antara lain: a. membedakan ciri khas berbagai macam media, bagaimana kelebihan dan kekurangannya masing-masing; b. memilih media yang tepat untuk kegiatan belajar mengajar; c. memproduksi atau membuat media untuk pembelajaran d. menggunakan media dalam pembelajaran e. mengevaluasi efektifitas penggunaan media
8 Bagan 1: Kerucut Pengalaman Edgar Dale (1946) Bagan 1 Kerucut Pengalaman tersebut menggambarkan semakin ke atas
semakin abstrak, semakin ke bawah semakin kongkirt. Dalam proses
pembelajaran, manakala pendidik dapat memberikan pengalaman
langsung, nyata, dan kongkrit kepada peserta didik adalah ideal. Jika
tidak mungkin, maka diberikan berturut-turut pengalaman tiruan,
dramatisasi, demonstrasi, pengalaman lapangan, pameran, gambar
bergerak, gambar mati, rekaman radio/audio, lambing visual, dan
lambing verbal. Lamb. verbal Lambang Visual Rekaman radio/ audio Gambar mati Gambar bergerak Pameran Pengalaman lapangan Demonstrasi Dramatisasi Tiruan pengalaman (simulasi) Pengalaman langsung
9 Teori kerucut pengalaman tersebut dikembangkan Edgar Dale tahun
1946 (molemd, 1996:16). Berdasar kerucut pengalaman tersebut, dalam
pembelajaran mula pertama kita mengajak siswa terlibat dalam
pengalaman nyata atau pengalaman langsung. Jika tidak memungkinkan,
kita mengajak siswa untuk mengamati peristiwa yang dimediakan
(peristiwa yang disajikan dengan menggunakan media), dan akhirnya
kita mengajak siswa mengamati lambang atau simbul yang merupakan
representasi kejadian. C. FUNGSI MEDIA DALAM PEMBELAJARAN Teknologi pendidikan dan teknologi pembelajaran lazimnya selalu diasosiasikan dengan media TV, radio, slide tape, film, dan sebagainya, yang kesemuanya termasuk
dalam kategori perangkat keras dan perangkat lunak (hardware dan software).
Sebenarnya, pengertian teknologi pendidikan lebih daripada sekedar perangkat keras dan
perangkat lunak yang digunakan untuk pembelajaran. Hal ini dapat dilihat dari salah satu
definisi teknologi pendidikan yang berbunyi “proses sistematis dalam perencanaan,
pelaksanaan, dan evaluasi keseluruhan proses belajar mengajar, dan proses komunikasi
dengan melibatkan manusia dan sumber belajar yang lain dengan tujuan untuk
meningkatkan efektifitas pembelajaran” (Anderson, 1976, p. 19). Teknologi pendidikan
merupakan bidang garapan yang berupaya membantu proses belajar manusia dengan
menggunakan sumber belajar melaui fungsi pengembangan dan pengelolaan, naik
pengelolaan organisasi maupun pengelolaan personalia (AECT, 1977). Teknologi
pembelajaran merupakan teori dan praktek tentang disain, pengembangan, pemanfaatan,
pengelolaan, dan evaluasi terhadap proses dan sumber untuk belajar (AECT 1994). Penggunaan media dalam pembelajaran didasarkan atas konsep dan prinsip teknologi pendidikan. Teknologi pendidikan seperti dikemukakan di depan
merupakan bidang garapan yang berusaha membantu proses belajar manusia
dengan jalan memanfaatkan secara optimal sumber-sumber belajar melalui fungsi
pengembangan dan pengelolaan, baik pengelolaan organisasi maupun pengelolaan
personel ( Gafur,dkk. 1986, p. 2). Sumber belajar dimaksud meliputi pesan,
orang, bahan, alat, teknik, dan lingkungan (POBATEL). Sumber belajar dapat
kelompokkan menjadi dua, yaitu pertama sumber belajar yang direncanakan
(misalnya TV Pendidikan, Kaset Pendidikan, Modul, Transparansi), dan kedua
sumber belajar karena dimanfaatkan (misalnya ruang sidang pengadilan yang
digunakan oleh mahasiswa yang mempelajari cara mengadili).
Jadi dalam rangka konsep dan prinsip teknologi pendidikan, media merupakan bagian dari sumber belajar. Agar pemanfaatannya optimal, sumber
belajar tersebut perlu dikembangkan. Kegiatan pengembangan sumber belajar
meliputi riset, disain, pemilihan, produksi, penyediaan logistik, pemanfaatan, dan
penyebarluasan. Kegiatan pengelolaan dan pengembangan sumber belajar tidak
10 lain dimaksudkan untuk mebantu proses belajar siswa yang memiliki berbagai
karakteristik dan kemampuan belajar yang berbeda-beda.
Dengan menggunakan media sebagai produk teknologi pendidikan, diharapkan dapat dipetik beberapa keuntungan, antara lain: pendidikan menjadi
lebih produktif, efektif, efisien, berdaya mampu tinggi, aktual, serempak, merata,
dan menarik.
Secara garis besar, fungsi media dalam pembelajaran dapat dibedakan menjadi dua yaitu pertama sebagai alat bantu pembelajaran (teaching aids), dan
kedua sebagai media yang dapat digunakan untuk belajar sendiri tanpa bantuan
pendidik (self instructional media). Media sebagai alat bantu pengajaran
mengandung makna bahwa penggunaan media tersebut tergantung pada pendidik.
Media tersebut digunakan untuk membantu pendidik dalam mengajar. Contoh
media sebagai alat bantu pembelajaran misalnya, kapur, papan tulis, peta, bola
dunia, bagan, grafik, proyektor slide,transparansi, OHP, dsb. Semua media tadi
merupakan alat bantu bagi pendidik dalam mengajar. Media yang dapat
digunakan untuk belajar sendiri dengan sedikit atau tanpa bantuan Pendidik,
misalnya modul, komputer multimedia, paket pengajaran berprograma, buku
resep, buku petunjuk pengoperasian suatu peralatan (user manual),dsb.
Secara terperinci, media berguna atau berfungsi untuk:

Memperjelas konsep. Dengan menggunakan media, konsep yang abstrak dapat disajikan menjadi
nampak kongkit sehingga mudah dipahami. Misalnya definisi di bidang
filsafat, hukum, agama dengan kalimat yang panjang-panjang dan abstrak,
jika disajikan dengan media akan menjadi jelas.
Menyederhanakan materi pelajaran yang kompleks Materi pelajaran yang kompleks susah untuk dipahami. Dengan menggunakan
media, materi pelajaran yang kompleks dapat disederhanakan. Misalnya letak
gedung pertemuan di suatu kota, jika disajikan dengan menggunakan denah
akan mudah dicari letaknya.
Menampakdekatkan yang jauh, menampakjauhkan yang dekat Obyek yang jauh maupun yang sangat dekat akan susah diamati. Dengan
menggunakan media teropong atau tele-lense, maka obyek yang jauh akan
nampak dekat. dan mudah diamati. Misalnya penggunaan teropong bintang
untuk mengamati bintang-bintang di langit. Obyek yang terlalu dekat juga
sulit diamati. Dengan menggunakan mekanisme zoom in dan zoom out atau
menggunakan wide-angle lense maka obyek dapat dinampakjauhkan sehingga

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s